Akhlak dalam kehidupan
Satu masalah akhlak yang perlu mendapat perhatian
serius adalah bebasnya hubungan antar jenis diantara pemuda yang nantinya
menjadi tonggak pembaharuan di masa depan. Islam sangat memperhatikan masalah
ini dan banyak memberikan rambu-rambu untuk bisa berhati-hati dalam melewati
masa muda. Suatu masa yang akan ditanya Allah di hari kiamat diantara empat
masa kehidupan di dunia ini. Kita bisa memahami hakikat pergaulan dalam Islam dengan melihat Al Qur’an :
“Janganlah
kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan
seburuk-buruknya jalan” (QS.17:32). Dan kita bisa memahami rambu-rambu Ilahiah seperti berikut
:
1. Rambu hati, didasarkan hadits shahih Bukhari :
“Zina itu banyak cabangnya, yaitu zina hati, mata, dan telinga, dan alat
kelaminlah yang akan membuktikan apakah berzina atau tidak”.
2. Rambu mata, didasarkan pada hadits shahih Bukhari
“
“Apabila seseorang memalingkan pandangannya pada wanita (lawan
jenis;pen) yang bukan muhrimnya karena takut kepada Allah, maka Allah akan
membuat dia merasakan manisnya iman”.
Dalam An-Nur/24:30-31 ada
larangan untuk mengumbar pandangan, dan hadits lewat Imam Ali : Hai Ali, hanya dijadikan halal bagimu
pandangan yang pertama”(Bukhari).
3. Rambu
telinga, adanya larangan untuk mendengar perkataan-perkataan yang tidak senonoh
dan jorok.
4. Rambu
tangan, wujudnya dengan martubasi dan bersalaman atau menyentuh lawan jenis
yang bukan muhrimnya. Didasarkan pada hadits :
“Lebih baik seseorang menggenggam bara api (babi, di lain riwayat) atau
ditombak dari duburnya hingga menembus kepala daripada menyentuh wanita yang
bukan muhrimnya.”
Rasullullah selama hidupnya
tidak pernah menyentuh wanita yang bukan muhrimnya, hanya mengucapkan salam.
5. Rambu kaki,
larangan untuk melangkahkan kaki ke tempat-tempat maksiat atau tempat dimana
terjadi pembauran laki-laki wanita yang tidak dikehendaki dalam Islam. Khusus
wanita dilarang menghentakkan kaki dengan maksud memperlihatkan perhiasan
(An-Nur/24:31).
6. Rambu
suara, dasarnya surat Al-Ahzab/33:32 :
“Hai isteri-isteri Nabi, tiadalah kamu seperti salah seorang dari
perempuan-perempuan itu jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lembut
dalam berbicara sehingga tertariklah orang yang di hatinya ada penyakit
(keinginan), dan ucapkanlah perkataan yang baik.
Ayat ini tentu tidak hanya
ditujukan buat isteri Rasul semata. Untuk itu kita perlu berhati-hati terhadap
suara yang mendayu, mendesah, merayu seperti sering dieksploitasi media massa.
7. Rambu seluruh tubuh, dasarnya An-Nur/24:1, 31,
Al-Ahzab/33:59).
“Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
perempuan-perempuan mukmin, ‘Hendaklah mereka itu memakai jilbab atas dirinya.’
Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka tidak diganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang”.
Ayat di atas mewajibkan kita
untuk menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, kecuali muhrimnya.
Sementara untuk pria auratnya adalan antara pusar dengan lutut.
Dalam
operasional pergaulan Islam ada aturan baku yang mesti mutlak untuk ditaati
a.l. :
1. Wajib atas pria dan wanita untuk menundukkan
pandangannya, kecuali empat hal :
v bertujuan meminang
v belajar-mengajar
v pengobatan
v proses pengadilan
(At-Tarbiyah Al-Aulad Fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan)
2. Menutup
aurat secara sempurna, tidak sekadar tutup tapi masih kelihatan lekuk tubuh dan
bentuknya.
3. Larangan
bepergian buat wanita tanpa muhrim sejauh perjalan sehari semalam (pendapat
lain, seukuran jamak sholat).
4. Bagi yang sudah berkeluarga, seorang isteri
dilarang pergi tanpa ijin suami.
5. Larangan
bertabarruj bagi wanita
(bersolek/berdandan untuk memperlihatkan perhiasan dan kecantikan kepada orang
lain) kecuali untuk suami.
6. Larangan berkhalwat
(berdua-dua antara pria dan wanita di temapat sepi)
7. Perintah untuk menjauhi tempat-tempat yang
subhat, menjurus maksiat.
8. Anjuran untuk menjauhi ikhtilat antara kelompok pria dan kelompok wanita.
9. Hubungan ta’awun (tolong menolong) pria dan
wanita dilakukan dalam bentuk umum, seperti mu’amalah.
10. Anjuran segera menikah, bila tidak mampu suruhan
berpuasa dilaksanakan.
11. Anjuran bertawakkal, menyerahkan segala
permasalahan pada Allah.
12. Islam
menyuruh pria dan wanita untuk bertakwa kepada Allah sebagai kendali internal
jiwa seseorang terhadap perbuatan dosa dan maksiat.
Kita memahami bahwa masa muda adalah masa yang
sangat berat. Ditambah faktor eksternal yang demikian kuat membelokkan tujuan
utama beribadah mencapai ridha Allah, maka dalam penyampaian kebenaran ini juga
perlu mendapat perhatian yang seksama. Kita tidak bisa saja dengan gampang
memberi peringatan tanpa memahami uslub
dan wasilah dakwah dan mengerti
sejauh mana pemahaman yang dipahami teman dan masyarakat kita. Minimal yang
mesti kita siapkan untuk berdakwah tentang etika pergaulan Islam ini adalah :
1. Menyamakan
persepsi dan kepahaman, bahwa ini merupakan masalah yang besar dan cukup
kompleks.
2. Memahami fiqh dakwah dan syar’i secara cukup
komprehensif.
3. Memahami
bahwa hidayah tidak bisa dipaksakan, tapi tetap kita mengupayakan sebab-sebab
terjadinya sunnatullah (turunnya hidayah).
4.
Mempelajari kaidah dakwah agar dalam
proses penyampaiannya tidak mengalami benturan yang justru membuat kita tertolak seperti :
1. Qudwah
sebelum dakwah ; peringatan harus dimulai dari diri kita dulu.
2. Menjalin
keakraban sebelum pengajaran ; menumbuhkan kasih sayang, perhatian, dan
kelembutan dalam kata dan perilaku (suluk).
3.
Mengenalkan sebelum memberi tugas ; tingkat kepahaman masing-masing orang
berbeda, perlu pemahaman yang tepat.
4. Bertahap
dalam pemberian tugas.
5.
Mempermudah bukan mempersulit ; dalam menyampaikan jangan beri aturan yang
rumit dan terkesan menakutkan.
6. Ushul
sebelum furu’ : yang utama adalah mengajarkan tauhid sebelum yang lain.
7. Memberi
kabar gembira sebelum ancaman.
8.
Memahamkan dengan perbuatan dan kata, bukan mendikte/instruksi.
9. Mendidik
bukan menelanjangi ; bukan malah menyebarkan aib dan dosa orang lain.
10. Menjadi
murid orang yang paham bukan hanya baca buku.
Terakhir
dalam dakwah tentang pergaulan Islam, kita dianjurkan untuk tidak ekslusif
artinya justru bergaul hanya kepada orang yang sepaham saja dan meninggalkan
mereka yang awam terhadap Islam. Terpenting untuk menyerahkan diri kepada Allah
segala urusan dan memperkuat ibadah-ibadah yang makin mengeratkan hubungan
dengan Allah sehingga lebih bisa menjaga diri dari perbuatan yang mendekati zina, yang diharamkan Allah.
KepadaNya lah saja kita bertawakkal.
0 Response to "Akhlak untuk pembaharuan di masa depan"
Post a Comment